04 August 2009

Asa Itu Kian Memudar

Dia selalu rindu bundanya
Layaknya semua orang impikan dan ucapkan
Seraya ia bergumam: Kamu masih beruntung
Bisa mendekap hangat dalam peluk kasih bundamu
Cuman hanya terpisah ruang dan waktu.
Dan saat pertemuan itu pasti akan tiba.
Sumbu harapan itu masih panjang dan menyala terang. Kerinduan masih terbayar walau terpisah jarak
Sedangkan aku terpisah alam
Asa itu kian memudar, dan hanya setitik , itupun ketika aku menghadapNya

5 komentar:

Sang Cerpenis bercerita said...

sedih bener nih puisinya.

♥ Neng Aia ♥ said...

touching bangetttt....

vie_three said...

membuat diriku jadi sedih dan tak bisa berkata apa-apa.

Endri Mulliadi said...

@sang cerpenis, @neng Aia, @Vie_three: Yah kira2 gitu deh, sangat menyentuh. Namun itulah mungkin kehidupan, yang terangkai dalam bait pendek. Semoga kita bisa menjadi orang yang sabar menjalani pernak-pernik kehidupan. Amin..

ahmad said...

sepertinya ada kata2 yang kurang tepat tuh

"Cuman hanya"

cuman : bukan kata2 baku dalam bahasa Indonesia
cuman hanya : maknanya jadi rancu dan tidak lazim

afwan

Post a Comment

 

©2009 ENDRI MULLIADI | by TNB